//
you're reading...
Tafsir

Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 7, Habis]

cahaya-quran

Oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah

Berikut ini kami sajikan penjelasan Syaikh as-Sa’di rahimahullah di dalam kitabnya Taisir al-Karim ar-Rahman mengenai hikmah dan faidah dari surat al-Fatihah.

Syaikh rahimahullah berkata :

Surat ini, meskipun ia sangatlah ringkas, namun sesungguhnya ia mengandung pelajaran-pelajaran yang tidak terdapat di dalam surat-surat lain di dalam al-Qur’an. Dimana ia mengandung ketiga macam tauhid; tauhid rububiyah -yang ini bisa dipetik dari firman-Nya ‘Rabbil ‘alamin’- kemudian tauhid ilahiyah -yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah- yang dipetik dari nama ‘Allah’ dan juga dari kalimat ‘Iyyaka na’budu’.

Demikian pula, ia mengandung tauhid asma’ wa shifat, yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah ta’ala sebagaimana yang ditetapkan oleh-Nya bagi diri-Nya sendiri, atau sifat-sifat yang ditetapkan oleh Rasul-Nya. Dan ini semuanya -iman terhadap asma’ dan sifat Allah- harus dilakukan tanpa disertai sikap ta’thil/menolak, tamtsil/menyamakan, maupun tasybih/menyerupakan. Semua kaidah dan faidah ini telah ditunjukkan oleh lafal ‘alhamdu’ sebagaimana sudah berlalu penjelasannya.

Di dalam surat ini juga terkandung penetapan nubuwwah/masalah kenabian yaitu di dalam firman-Nya ‘Ihdinash shirathal mustaqim’ karena hal ini -terwujudnya hidayah menuju jalan lurus, pent- adalah tidak mungkin terlaksana tanpa perantara risalah/kerasulan.

Di dalamnya juga terkandung penetapan balasan atas amal-amal. Yaitu di dalam firman-Nya ‘Maaliki yaumid diin’. Di sisi lain, ayat ini juga menunjukkan bahwasanya pembalasan itu dilakukan penuh dengan keadilan. Karena kata ‘ad-diin’ mengandung makna pembalasan dengan keadilan.

Ia juga mengandung penetapan tentang takdir. Dimana ia menunjukkan bahwa hamba itulah pelaku atas perbuatannya secara hakiki. Berbeda dengan keyakinan sekte Qadariyah dan Jabariyah [Qadariyah menolak takdir, sedangkan Jabariyah berlebihan dalam menetapkan takdir sehingga menganggap manusia itu dipaksa dan tidak punya kehendak, pent].

Bahkan, surat ini pun mengandung bantahan bagi seluruh kelompok ahli bid’ah dan penganut kesesatan, yaitu di dalam firman-Nya ‘Ihdinash shirathal mustaqim’ karena hakikat jalan lurus ini adalah mengenali kebenaran serta beramal dengannya. Sementara semua ahli bid’ah maupun penganut kesesatan pasti menyelisihi hal itu.

Surat ini juga mengandung pemurnian agama untuk Allah ta’ala semata dalam bentuk ibadah dan isti’anah/permohonan bantuan. Ini tercakup di dalam firman-Nya ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’. Dengan demikian, segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.

[lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39-40]

Keterangan Penjelas

Di bagian akhir tafsir surat al-Fatihah ini, Syaikh as-Sa’di rahimahullah memberikan gambaran kepada kita mengenai berbagai kaidah dan faidah berharga yang bisa kita petik dengan men-tadabburi surat yang paling agung ini.

Diantara faidah paling utama yang bisa kita dapatkan darinya adalah dalam masalah iman kepada Allah. Bahwasanya surat ini berisi salah satu pondasi akidah islam, yaitu iman kepada Allah; yang ia merupakan rukun iman yang pertama dan juga kandungan dari rukun islam yang pertama yaitu kalimat tauhid.

Di dalam surat ini dengan indahnya Allah menerangkan kepada kita tentang kebesaran dan kemuliaan-Nya sebagai Rabb alam semesta. Inilah yang biasa dikenal dengan istilah tauhid rububiyah. Yaitu keyakinan bahwa Allah adalah pencipta, penguasa, dan pemelihara alam. Keyakinan ini pada hakikatnya sudah tertanam di dalam hati dan fitrah setiap insan. Bahkan orang-orang kafir sekalipun mengakui dan meyakini hal ini di dalam lubuk hatinya.

Kemudian, Allah juga menerangkan di dalamnya tentang tauhid ilahiyah atau tauhid ibadah. Yaitu kewajiban mengesakan Allah dalam hal ibadah. ‘Hanya kepada-Mu kami beribadah’. Inilah makna yang tersimpan dalam kalimat tauhid laa ilaha illallah. Di dalamnya terkandung penetapan Allah sebagai sesembahan yang haq dan penolakan segala sesembahan selain-Nya. Inilah hakikat agama Islam dan intisari keikhlasan.

Di dalam surat ini, Allah juga menyebutkan nama-nama-Nya yang maha indah lagi sempurna. Yang di dalamnya terkandung sifat-sifat yang tinggi lagi mulia. Inilah yang dinamakan dengan tauhid asma’ wa shifat. Oleh sebab itulah Allah berhak menerima pujian dan sanjungan yang dilandasi dengan segenap kecintaan dan pengagungan.

Selain itu, di dalam surat ini juga terkandung salah satu pokok akidah islam, yaitu iman kepada Rasul. Yaitu Allah mengutus rasul yang menjelaskan kepada kita jalan yang mengantarkan menuju keridhaan dan surga-Nya. Itulah jalan yang lurus. Itulah hidayah yang setiap hari kita mohon kepada Allah; agar bisa berjalan di atas jalan Rasul. Ini pula makna yang terkandung dalam bagian kedua dalam kalimat syahadat; yaitu ‘wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’. Karena seorang hamba tidak mungkin bisa beribadah kepada Allah -mewujudkan makna Iyyaka na’budu- kecuali dengan hidayah yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau ajarkan kepada para sahabatnya.

Kemudian, di dalam surat ini juga terdapat salah satu pilar keimanan; yaitu iman kepada hari akhir; yang ini terkandung dalam ayat ‘Maaliki yaumid diin’. Sehingga seorang hamba akan merasa takut kepada Allah apabila mendapatkan hukuman dan siksa-Nya. Di sisi lain, ia juga akan selalu mengharapkan ampunan dan rahmat-Nya. Iman kepada hari akhir merupakan salah satu faktor pendorong yang terbesar bagi hamba dalam beramal salih. Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita untuk banyak-banyak mengingat kematian, sang pemutus kelezatan.

Selain itu, di dalamnya juga tersirat keadilan Allah ta’ala dalam hukum dan takdir-Nya. Dengan adanya hari kebangkitan dan pembalasan, orang yang berbuat baik akan mendapatkan buah dari amal mereka. Demikian juga orang yang berbuat buruk akan merasakan dampak dari perbuatan buruk mereka. Ini adalah keadilan dari Allah dan hikmah dari-Nya. Tidaklah Allah ciptakan alam ini semua dengan sia-sia.

Di dalam surat ini, juga terkandung iman kepada takdir -yang ini juga termasuk pokok keimanan-. Iman kepada takdir maknanya adalah kita meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, segala sesuatu diciptakan oleh-Nya, dan Allah telah mencatat segala kejadian di dalam catatan takdir di sisi-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang keluar dan melenceng dari takdir-Nya. Meskipun demikian, hamba memiliki kehendak dan pilihan. Allah tidak memaksa mereka. Mereka yang berbuat jahat terjerumus ke dalam kejahatan dan akan menerima hukuman, itu semua dengan keadilan dari-Nya. Mereka yang berbuat baik dan akan menerima pahala, itu semua berkat keutamaan dan karunia dari-Nya. Allah sama sekali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.

Oleh sebab itu di dalam surat ini kita selalu membaca ‘Iyyaka nasta’in’. Di dalamnya terkandung ajaran tawakal; yaitu agar setiap hamba menyandarkan hati dan harapannya kepada Allah sang penguasa dan pengatur alam semesta. Bahkan, tawakal ini merupakan pilar dan pondasi keimanan dan akidah Islam. Oleh sebab itu Allah kerapkali mengiringkan antara perintah beribadah dengan tawakal. Karena tanpa bantuan dan pertolongan Allah, seorang hamba tidak akan bisa menggapai keinginan dan cita-citanya. Inilah prinsip yang semestinya selalu kita ingat dan tanamkan di dalam jiwa kita.

Di samping itu, surat ini juga berisi pokok-pokok bantahan bagi seluruh ahli bid’ah dan penganut kesesatan. Karena hakikat jalan yang lurus memadukan dua pilar utama; ilmu yang bermanfaat dan amal salih. Tanpa ilmu yang bermanfaat, seorang akan terseret dalam kesesatan. Tanpa amal salih, seorang akan terjatuh dalam kemurkaan Allah. Sementara semua ahli bid’ah dan penganut kesesatan [pemuja hawa nafsu] adalah menyimpang dari salah satu atau bahkan kedua pilar yang agung ini. Nas’alullahat taufiq was sadaad.

Surat ini juga mengandung ajaran keikhlasan, yaitu kewajiban untuk memurnikan ibadah dan isti’anah kepada Allah semata. Dengan memurnikan ibadah kepada Allah, seorang hamba akan selamat dari syirik dan riya’. Dengan memurnikan isti’anah kepada Allah, seorang hamba akan selamat dari ujub dan takabur. Hatinya akan selalu bergantung kepada Allah dan memohon kepada-Nya. Beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dengannya pula seorang hamba akan terlepas dari jerat kemunafikan dan kekafiran. Inilah surat yang disebut oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai surat yang paling agung di dalam Kitabullah.

Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan amal salih serta mendapatkan ampunan atas segala dosa dan kesalahan kita. Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: