//
you're reading...
Kisah Salaf, Telaah

Mutiara Hikmah Hadits Jibril

Slider_24

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Imam an-Nawawi rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya al-Arba’in an-Nawawiyah [hadits ke-2] dari ‘Umar radhiyallahu’anhu beliau berkata :

Pada suatu hari, ketika kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seorang lelaki di hadapan kami. Bajunya sangat putih. Rambutnya sangat hitam. Tidak terlihat pada dirinya bekas perjalanan jauh. Akan tetapi tidak ada seorang pun diantara kami yang mengenalinya.

Hingga, akhirnya dia pun duduk di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dia meletakkan kedua lututnya di depan kedua lutut beliau. Dia letakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau.

Dia pun berkata, “Wahai Muhammad. Kabarkanlah kepadaku tentang Islam.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang haq selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah apabila kamu memiliki kemampuan untuk mengadakan perjalanan ke sana.”

Lelaki itu berkata, “Kamu benar.”

Kami pun merasa heran kepadanya. Dia bertanya dan dia juga membenarkan jawabannya. Lalu dia berkata, “Kalau begitu, kabarkanlah kepadaku tentang iman.”

Beliau menjawab, “Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir; yang baik maupun yang buruk.”

Lelaki itu berkata, “Kamu benar.”

Lalu dia berkata, ”Kabarkan kepadaku tentang ihsan.”

Beliau menjawab, “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan apabila kamu tidak sanggup -beribadah seolah-olah melihat-Nya- maka sesungguhnya Dia pasti melihatmu.”

Lalu dia berkata, “Kabarkan kepadaku tentang waktu kiamat.”

Beliau menjawab, “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada yang bertanya.” Lalu dia berkata, “Kala begitu, kabarkanlah kepadaku mengenai tanda-tandanya.”

Beliau menjawab, ”Yaitu ketika seorang budak perempuan melahirkan tuannya, dan kamu akan melihat orang-orang yang tidak mengenakan alas kaki, tidak berpakaian, miskin, yang bekerja menggembalakan kambing kemudian mereka bisa berlomba-lomba meninggikan bangunan.”

Kemudian dia pun pergi. Aku tetap dalam keadaan itu -tidak mengetahui siapakah orang itu- selama beberapa waktu lamanya. Kemudian suatu saat beliau [Nabi] bertanya, “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu?”

Aku katakan, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia itu adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.”

Hadits Riwayat Muslim.

[lihat Syarh al-Arba’in oleh Imam Ibnu Daqieq al-‘Ied, hal. 12-13]

Hadits ini juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu di dalam Sahih Bukhari dan Muslim dengan redaksi sebagai berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata :

Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari tampak sedang berada di tengah-tengah manusia. Lalu datanglah kepadanya Jibril dan bertanya,”Apa itu iman?”

Beliau menjawab, ”Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, perjumpaan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kamu beriman terhadap hari kebangkitan.”

Lalu dia bertanya, ”Apa itu Islam?”

Beliau menjawab, “Islam adalah kamu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan dengan-Nya, kamu mendirikan sholat, kamu menunaikan zakat yang wajib, dan kamu berpuasa Ramadhan.”

Lalu dia berkata, “Apa itu ihsan?”

Beliau menjawab, “Yaitu kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Kalau kamu tidak bisa -beribadah seolah melihat-Nya- maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Dia pun bertanya, “Kapankah hari kiamat tiba?”

Beliau menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui daripada si penanya. Namun akan kukabarkan kepadamu mengenai tanda-tandanya. Yaitu ketika budak perempuan melahirkan tuannya, dan apabila para penggembala unta yang hitam saling bersaing meninggikan bangunan. Ini termasuk lima hal yang tidaklah diketahui kecuali oleh Allah.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat, (yang artinya) “Sesungguhnya Allah, di sisi-Nya lah imu tentang hari kiamat…” Kemudian dia [Jibril] pun pergi.

Nabi bersabda, “Suruhlah dia kembali kemari.”

Namun mereka tidak lagi melihat apa-apa. Maka beliau pun bersabda, “Ini adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan kepada manusia mengenai agama mereka.”

Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim.

[lihat al-Jami’ Baina ash-Shahihain, 1/46]

Hadits yang agung ini biasa disebut dengan hadits Jibril. Di dalam hadits ini dikisahkan kedatangan malaikat Jibril ‘alaihis salam dalam bentuk manusia. Kemudian dia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang islam, iman, ihsan, dan seputar kiamat.

Banyak sekali pelajaran yang terkandung di dalam hadits ini, sampai-sampai Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah membuat tulisan khusus yang berisi penjabaran kandungan hadits ini dengan judul ‘Syarh Hadits Jibril fi Ta’lim ad-Dien’ [bisa dilihat dalam kumpulan karya beliau, Kutub wa Rasa’il ‘Abdil Muhsin, Juz 3, hal. 7-80]

Saking istimewa dan pentingnya hadits ini pula, Imam Muslim rahimahullah meletakkannya di bagian awal [hadits pertama] di dalam Shahih Muslim, yaitu pada Kitab al-Iman. [bisa dilihat dalam Sahih Muslim yang dicetak bersama Syarah an-Nawawi, Jilid 2, hal. 5-20]

Begitu pula, Imam al-Baghawi rahimahullah yang meletakkan hadits ini di bagian awal [hadits kedua] di dalam kitab beliau Syarh as-Sunnah, yaitu pada Kitab al-Iman. [bisa dilihat dalam Syarh as-Sunnah, Juz 1 hal. 7-9]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam syarah al-Arba’in an-Nawawiyah juga memberikan penjelasan kandungan hadits ini secara panjang lebar hingga mencapai 70 halaman lebih -yang asalnya adalah dalam bentuk ceramah- [bisa dilihat dalam Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, cet. Dar ats-Tsurayya, hal. 19-78]

Syaikh Yahya al-Hajuri hafizhahullah dalam syarah al-Arba’in beliau berusaha untuk merangkum faidah-faidah yang bisa dipetik dari hadits ini dan terkumpullah 70 faidah atau pelajaran berharga yang bisa diambil darinya [bisa dilihat dalam Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah karya beliau, hal. 38-42]

Sebab Periwayatan

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu ini memiliki sebab atau kejadian yang melatar-belakanginya. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Imam Muslim -dengan sanadnya- dari Yahya bin Ya’mar seorang tabi’in.

Yahya bin Ya’mar mengatakan :

Dahulu, orang yang pertama kali berpendapat tentang qadar [maksudnya menganut paham menolak takdir, aliran Qadariyah] di Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani.

Maka berangkatlah aku bersama Humaid bin Abdurrahman al-Himyari dalam rangka menunaikan haji atau umrah. Kami berkata, “Seandainya kita bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akan kita tanyakan kepadanya mengenai pendapat yang dilontarkan oleh orang-orang itu dalam masalah takdir.”

Hingga akhirnya, kami pun berpapasan dengan Abdullah bin ‘Umar bin al-Khaththab tatkala sedang memasuki masjid. Aku pun memeluk beliau, begitu pula sahabatku itu; yang satu di sebelah kanan dan yang satu di sebelah kiri.

Aku menyangka sahabatku ini menyerahkan pembicaraan kepadaku. Aku berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, sesungguhnya telah muncul di tempat kami orang-orang yang membaca al-Qur’an dan gemar mencari ilmu -lalu disebutkanlah keadaan mereka- namun mereka meyakini bahwa takdir itu tidak ada. Segala urusan terjadi secara tiba-tiba begitu saja.”

Beliau -Ibnu ‘Umar- berkata, “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang itu, kabarkan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka pun tidak ada urusan denganku. Demi dzat yang Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengan nama-Nya, seandainya salah seorang diantara mereka memiliki emas sebesar Uhud lantas dia infakkan. Maka Allah tidak akan menerima amalan itu sampai mereka beriman kepada takdir.”

Kemudian beliau -Ibnu ‘Umar- berkata :

Ayahku yaitu ‘Umar bin al-Khaththab telah menuturkan hadits kepadaku. Dia berkata : Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Tiba-tiba muncullah di hadapan kami seorang lelaki dst.”

[lihat Shahih Muslim bersama Syarh an-Nawawi, Jilid 2, hal. 10-15]

Faidah Dari Latar Belakang Periwayatan

Dari kisah yang dituturkan oleh Yahya bin Ya’mar ini dapat kita petik faidah, diantaranya adalah sebagai berikut :

Bid’ah yang berupa pendapat/keyakinan menolak takdir ini sudah muncul di Bashrah [Iraq] pada masa sahabat, yaitu pada masa hidupnya Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhuma. Sementara beliau wafat pada tahun 73 H [lihat keterangan Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah dalam Kutub wa Rasa’il, Juz 3 hal. 13]

Bid’ah ini dimunculkan oleh seorang yang bernama Ma’bad bin Khalid al-Juhani. Dulunya dia bermajelis kepada Hasan al-Bashri lalu menyempal dan mengeluarkan pendapat menolak iman kepada takdir. Pendapat ini pun diikuti oleh para penduduk Bashrah tatkala mereka melihat Amr bin ‘Ubaid mendukung keyakinan itu. Demikian sebagaimana diterangkan oleh Imam as-Sam’ani dan dikutip oleh an-Nawawi [lihat Syarh Muslim, 2/12]

Syaikh Yahya hafizhahullah berkata, “Perkataan beliau ‘Orang yang pertama kali menyatakan pendapat menolak takdir di Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani’ di dalam kalimat ini terkandung keterangan tentang perlunya mengetahui siapakah orang yang pertama kali menyebarkan keburukan atau pun kebaikan, meskipun orang itu berada di belahan bumi mana pun. Hal ini juga menunjukkan bahwa Ma’bad bin Ghailan al-Juhani salah seorang penganut Mu’tazilah adalah orang yang menyebarkan bid’ah ini yang asalnya bersumber dari Yahudi.” [lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hal. 23]

Kaum penolak takdir kala itu [Qadariyah terdahulu] memiliki keyakinan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu [perbuatan hamba] kecuali setelah terjadinya hal itu. Sehingga, menurut mereka segalanya terjadi dengan tiba-tiba dan baru. Apa yang terjadi -perbuatan hamba- belum tertulis sebelumnya di dalam lembaran takdir dan Allah belum mengetahui kecuali apabila telah terjadi. Tentu saja keyakinan mereka ini bertentangan dengan keyakinan ahlul haq; para pengikut kebenaran. Karena mengimani takdir -yaitu ilmu dan catatan takdir Allah mengenai segala perbuatan hamba- adalah wajib. Oleh sebab itu pada hakikatnya mereka [Qadariyah] telah berdusta atas nama Allah, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari pendapat mereka yang batil itu [lihat Syarh Muslim, 2/13]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Mereka -kaum Qadariyah terdahulu yang ekstrim- mengatakan bahwa: Allah tidak mengetahui perbuatan-perbuatan hamba kecuali setelah terjadinya hal itu. Menurut mereka itu semua belum tercatat. Mereka juga mengatakan bahwa: segala urusan terjadi secara tiba-tiba dan baru muncul. Artinya ia muncul dalam keadaan baru. Akan tetapi generasi belakangan diantara mereka -Qadariyah- telah mengakui ilmu dan pencatatan [takdir Allah], namun mereka tetap mengingkari masyi’ah/kehendak Allah dan khalq/bahwa Allah menciptakan segalanya. Ini berkaitan dengan perbuatan makhluk.” [lihat Syarh al-Wasithiyah, 2/203]

Apa hukum orang yang mengingkari ilmu Allah terhadap segala perbuatan hamba sebelum terjadinya -sebagaimana yang diyakini sekte Qadariyah itu-? Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Mereka itu -yaitu orang-orang yang mengingkari ilmu Allah mengenai segala perbuatan hamba- hukum mereka di dalam syari’at adalah berstatus sebagai orang kafir. Sebab mereka telah mendustakan firman Allah ta’ala, (yang artinya) “Allah atas segala sesuatu maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 282). Dan ayat-ayat lainnya. Dan mereka telah menentang suatu perkara yang jelas sekali termasuk masalah mendasar yang pasti dimengerti sebagai bagian dari agama.” [lihat Syarh al-Wasithiyah, 2/204]

Oleh sebab itu wajar apabila Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhu memberikan bantahan yang sangat keras terhadap mereka. Sampai-sampai beliau berkata, “Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan nama-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar Uhud lalu dia infakkan, maka Allah tidak akan menerimanya sampai dia beriman kepada takdir.”

Imam an-Nawawi rahimahullah mengomentari, “Ucapan yang dikatakan oleh Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma ini dengan terang dan jelas menunjukkan bahwa beliau mengkafirkan kaum Qadariyah.” [lihat Syarh Muslim, 2/15]

Syaikh Yahya hafizhahullah berkata, “Di dalam riwayat ini terkandung pelajaran bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma memandang kafirnya para penganut paham Qadariyah itu.” [lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah oleh beliau, hal. 38]

Inilah yang diyakini oleh para ulama salaf. Oleh sebab itu, Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Barangsiapa mendustakan takdir sesungguhnya dia telah mendustakan al-Qur’an.” [lihat Aqwal Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman 1/138]. Sementara perbuatan mendustakan al-Qur’an jelas merupakan suatu kekafiran. Wallahu a’lam.

Bersambung insya Allah.

Discussion

2 thoughts on “Mutiara Hikmah Hadits Jibril

  1. Reblogged this on ngajirame2.

    Posted by ngajirame2 | February 26, 2014, 4:29 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Mutiara Hikmah Hadits Jibril [2] | Terjemah Kitab Salaf - February 26, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: