//
you're reading...
Telaah

Mutiara Hikmah Hadits Jibril [2]

high-tech

Kembali Kepada Para Ulama

Demikian pula, diantara faidah berharga dari kisah yang melatarbelakangi periwayatan hadits Jibril di atas ialah kembali kepada para ulama untuk mengetahui hukum atau sikap yang benar dalam menghadapi masalah-masalah pelik.

Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah berkata, “Faidah Kedua. Kembalinya para tabi’in kepada Sahabat Nabi guna mengetahui suatu hukum atas perkara-perkara yang musykil/pelik. Sama saja apakah hal ini berkaitan dengan akidah atau selainnya. Inilah kewajiban setiap muslim yaitu untuk merujuk dalam urusan-urusan agamanya kepada para ulama. Berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” [lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 3/13]

Berkaitan dengan kisah di atas, Syaikh Yahya al-Hajuri hafizhahullah memberikan tambahan faidah, “Di dalamnya terkandung keutamaan para ulama, dan bahwasanya mereka itu senantiasa melihat kepada dalil.” [lihat Syarh al-Arba’in, hal. 38]

Mengembalikan urusan ilmu kepada ulama termasuk masalah pokok di dalam manhaj salaf. Syaikh Abdullah bin Shalfiq hafizhahullah berkata, “… Bahwasanya salah satu pokok manhaj salaf adalah keterkaitan erat dengan ilmu dan para ulama. Dan bahwasanya hal ini adalah termasuk perkara yang diwasiatkan Allah. Di dalamnya terkandung kebaikan, kebahagiaan, dan keselamatan dari segala fitnah. Karena sesungguhnya dengan perginya para ulama atau tidak adanya jalinan dengan mereka menyebabkan lenyapnya ilmu dan agama. Itu pula yang menyebabkan merebaknya kebodohan dan fitnah/kekacauan, sehingga manusia setelah mereka akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh, yang mereka itu sesat lagi menyesatkan.” [lihat Haqiqah al-Manhaj as-Salafi, hal. 14]

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu’anhu, dia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu secara langsung dengan melenyapkan ilmu itu dari manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mencabut nyawa para ulama. Sehingga apabila Allah tidak menyisakan orang berilmu lagi, orang-orang pun mengangkat para pemimpin yang bodoh. Mereka pun ditanya dan berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari)

Muhammad bin Abi Hatim rahimahullah mengatakan: Aku mendengar Yahya bin Ja’far al-Baikandi berkata, “Seandainya aku mampu menambah umur Muhammad bin Isma’il (Imam Bukhari) dari jatah umurku niscaya akan aku lakukan. Karena kematianku adalah kematian seorang lelaki biasa. Adapun kematiannya berarti lenyapnya ilmu [agama].” [lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 118]

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Hasan, bahwa Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Perumpamaan ulama di tengah umat manusia bagaikan bintang-bintang di langit yang menjadi penunjuk arah bagi manusia.” [lihat Akhlaq al-‘Ulama, hal. 29]

Di dalam kisah di atas pula, kita bisa menarik pelajaran bahwa semata-mata menyibukkan diri dengan ilmu namun tidak dibarengi dengan amal dan ittiba’ maka itu bukanlah ilmu yang bermanfaat. Sebagaimana keadaan kaum Qadariyah yang disebutkan pandai membaca al-Qur’an dan gemar mengumpulkan ilmu, namun menentang akidah Islam.

Syaikh Yahya hafizhahullah berkata, “Di dalamnya terkandung pelajaran, bahwa bisa jadi seorang insan pandai membaca al-Qur’an padahal dia jahil/bodoh. Yaitu tatkala ia tidak terbimbing di bawah asuhan ulama Sunnah.” [lihat Syarh al-Arba’in, hal. 38]

Imam al-Barbahari rahimahullah berkata, “Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- sesungguhnya ilmu bukanlah semata-mata dengan memperbanyak riwayat dan kitab. Sesungguhnya orang yang berilmu adalah yang mengikuti ilmu dan Sunnah, meskipun ilmu dan kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah, maka dia adalah penganut bid’ah, meskipun ilmu dan kitabnya banyak.” [lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 163]

Waki’ bin al-Jarrah rahimahullah berkata, “Barangsiapa menimba ilmu hadits sebagaimana datangnya (apa adanya, pen) maka dia adalah pembela Sunnah. Dan barangsiapa yang menimba ilmu hadits untuk memperkuat pendapatnya semata maka dia adalah pembela bid’ah.” [lihat Mukadimah Tahqiq Kitab az-Zuhd, hal. 69]

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Bukanlah seorang alim [ahli ilmu] orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan akan tetapi sesungguhnya orang yang alim adalah yang mengetahui kebaikan lalu mengikutinya dan mengetahui keburukan lalu berusaha menjauhinya.” [lihat Min A’lam as-Salaf 2/81]

Kisah di atas juga memberikan pelajaran kepada kita untuk tidak mendaku sesuatu yang tidak ada pada diri kita. Kalau kita bukan ulama maka kembalikanlah urusan itu kepada ahlinya, yaitu para ulama. Sehingga sudah semestinya setiap orang menyadari kapasitas dan kedudukan dirinya masing-masing serta tidak melampaui batas wewenangnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kedudukan dan kekuasaan tidak bisa mengubah orang yang bukan alim mujtahid menjadi alim mujtahid. Seandainya hak berbicara tentang urusan ilmu dan agama diperoleh dengan sebab kekuasaan dan kedudukan niscaya khalifah dan raja adalah orang yang paling berhak berbicara tentang ilmu dan agama. Sehingga orang-orang merujuk kepadanya dalam mencari solusi bagi masalah ilmu maupun agama yang mereka hadapi. Apabila ternyata khalifah dan raja tidak mendakwakan hal itu ada pada dirinya, demikian juga rakyat tidak wajib menerima pendapatnya tanpa melihat pendapat lain, kecuali apabila selaras dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, orang-orang yang lebih rendah kedudukannya daripada raja lebih pantas untuk tidak melampaui kapasitas dirinya…” [lihat Qawa’id fi at-Ta’amul ma’al ‘Ulama, karya Syaikh Abdurrahman bin Mu’alla. Hal. 28]

Kisah di atas juga menunjukkan kepada kita tentang keutamaan menimba ilmu dan belajar hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dengan sebab itu kita akan bisa mengenal agama dan selamat dari kesesatan. Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengetahui di atas muka bumi ini suatu amalan yang lebih utama daripada menuntut ilmu dan mempelajari hadits yaitu bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan lurus niatnya.” [lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 27]

Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata, “Meriwayatkan hadits dan menyebarkannya di tengah-tengah umat manusia itu jauh lebih utama daripada ibadah yang dilakukan oleh seribu ahli ibadah.” [lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131]

Suatu saat Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah dicela karena sedemikian sering mencari hadits. Beliau pun ditanya, “Sampai kapan kamu akan mendengar hadits?”. Beliau menjawab, “Sampai mati.” [lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 58]

Kisah di atas juga menunjukkan tentang keutamaan seorang ahli ilmu bagi umat manusia. Abu Ja’far al-Baqir Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain rahimahullah berkata, “Seorang alim [ahli ilmu] yang memberikan manfaat dengan ilmunya itu lebih utama daripada tujuh puluh ribu orang ahli ibadah.” [lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131]

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Para malaikat adalah para penjaga langit sedangkan ashabul hadits adalah para penjaga bumi.” [lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 31]

Kembali Kepada Manhaj Salaf

Kisah di atas juga memberikan pelajaran berharga kepada kita untuk senantiasa kembali kepada pemahaman salafus shalih dalam memahami agama.

Syaikh Yahya hafizhahullah berkata, “Di dalamnya terkandung keutamaan para sahabat dan keutamaan ilmu yang mereka miliki.” [lihat Syarh al-Arba’in, hal. 39]

Imam al-Auza’i rahimahullah berkata, “Ilmu yang sebenarnya adalah apa-apa yang datang dari para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ilmu apapun yang tidak berada di atas jalan itu maka pada hakikatnya itu bukanlah ilmu.” [lihat Da’a’im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 390-391]

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu tetap berpegang dengan atsar dan jalan kaum salaf, dan jauhilah olehmu segala ajaran yang diada-adakan, karena itu adalah bid’ah.” [lihat Fashlu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 46]

Imam Abul Qasim at-Taimi rahimahullah berkata, “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah komitmen mereka untuk ittiba’ kepada salafus shalih dan meninggalkan segala ajaran yang bid’ah dan diada-adakan.” [lihat Fashlu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 49]

Memang sudah semestinya kita kembali kepada pemahaman salaf dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebab mereka -yaitu para Sahabat, sebagai barisan terdepan salafus shalih- adalah generasi terbaik di dalam umat ini. Di samping itu, mereka -para sahabat Nabi- adalah orang-orang yang menyaksikan secara langsung turunnya wahyu dan mereka hidup di masa itu. Mereka juga mendengar langsung hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengambil ilmu darinya. Mereka menghafal dan menjaga ucapan-ucapan beliau. Kemudian mereka pula yang menukilnya dan men-transfer ilmu tersebut kepada generasi sesudahnya sebagaimana yang mereka dengar dan pahami.

Oleh sebab itu mereka adalah orang-orang yang paling fakih/paham diantara umat ini mengenai maksud Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, di dalam al-Qur’an al-Karim terdapat ketetapan syari’at yang diturunkan bersesuaian dengan pendapat dari sebagian mereka. Seluruh makna ayat al-Qur’an telah ada bersama mereka. Apabila ada suatu makna yang luput dari sebagian mereka, maka hal itu tidak akan luput dari keseluruhan dari mereka. Oleh sebab itu kita dapati Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata sembari menjelaskan pentingnya mengambil pendapat para Sahabat Nabi, “Pendapat mereka untuk kita itu jauh lebih baik daripada pendapat kita untuk diri kita sendiri.”

[lihat dalam al-Manhaj as-Salafi karya Dr. Mafrah bin Sulaiman al-Qusi hal. 361-363, asal kitab ini adalah tesis doktoral beliau]

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Maka mereka itu -sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in/salafus shalih, pent- adalah teladan bagi umat ini. Dan yang dimaksud manhaj mereka ialah jalan yang mereka berjalan di atasnya; yaitu dalam hal akidah mereka, dalam hal mu’amalah mereka, di dalam akhlak mereka, dan dalam segala urusan mereka. Itulah manhaj yang bersumber dari al-Kitab dan as-Sunnah. Karena begitu dekatnya mereka -salafus shalih- dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan karena kedekatan mereka dengan masa turunnya wahyu. Dan karena mereka mengambilnya langsung dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu mereka menjadi generasi yang terbaik, dan manhaj/jalan mereka adalah sebaik-baik jalan…” [lihat Manhaj as-Salaf ash-Shalih wa Haajatul Ummah Ilaih, hal. 2-3]

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mewasiatkan, “Barangsiapa yang menginginkan keselamatan wajib atasnya untuk mengenali madzhab salaf dan berpegang teguh dengannya, serta mendakwahkan kepadanya. Inilah jalan keselamatan. Ia laksana bahtera Nuh ‘alaihis salam; barangsiapa menaikinya maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya pasti binasa dan tenggelam dalam kesesatan. Oleh sebab itu tiada keselamatan bagi kita kecuali dengan madzhab salaf.”

“Dan tidak mungkin kita mengerti madzhab salaf kecuali dengan belajar [baca; ngaji], yaitu menimba ilmu, mengajarkan, dan mengkajinya. Di samping itu, kita juga harus senantiasa memohon kepada Allah, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka.” Yaitu kita memohon kepada Allah agar selalu memberikan taufik kepada kita untuk berjalan di atasnya [jalan yang lurus] dan meneguhkan kita di atasnya.Inilah yang harus kita lakukan.”

“Bukanlah yang menjadi permasalahan itu perkara pengakuan -mengaku ahlus sunnah atau pengikut salaf, pent- sebab ‘pengakuan yang tidak ditopang dengan bukti-bukti itu hanya akan jadi omong kosong belaka’ [kata pepatah arab, pent]. Jadi, bukanlah yang menjadi sumber masalah adalah persoalan intisab/penyandaran diri. Sedangkan Allah jalla wa ‘ala menyatakan (yang artinya), “Dan orang-orang yang mengikuti mereka [sahabat] dengan ihsan/baik.” (QS. At-Taubah: 100). Artinya -mengikuti- dengan itqan/mapan dan benar. Dan anda tidak akan bisa mapan dan benar dalam meniti madzhab salaf kecuali apabila anda mengenali dan mempelajarinya. Dan anda tidaklah [disebut] berpegang teguh dengannya kecuali apabila anda bersabar di atasnya…” [lihat Manhaj as-Salaf ash-Shalih wa Haajatul Ummah Ilaih, hal. 11]

Syaikh Abdullah bin Shalfiq azh-Zhafiri hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya manhaj salaf inilah Islam, dan Islam itulah manhaj salaf. Imam al-Barbahari rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa Islam adalah Sunnah, dan Sunnah itulah Islam. Tidak akan bisa tegak salah satunya kecuali bersama pasangannya.” Kebenaran yang diturunkan Allah itu satu, tidak berbilang. Demikian pula kelompok yang selamat [al-Firqah an-Najiyah] pun hanya ada satu. Manhaj salaf ini adalah manhaj/jalan yang dipegang oleh al-Firqah an-Najiyah yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kelompok yang mendapatkan pertolongan hingga tegaknya hari kiamat.” [lihat Haqiqah al-Manhaj as-Salafi, hal. 25]

Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Sunnah adalah jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun al-Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin; mereka itu adalah para sahabat, dan para pengikut setia mereka hingga hari kiamat. Mengikuti mereka adalah petunjuk, sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan.” [lihat Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, takhrij Syaikh al-Albani, hal. 382 cet. al-Maktab al-Islami]

Islam yang sahih yaitu mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para sahabat, keislaman semacam inilah yang kini menjadi terasing di tengah-tengah umat manusia, bahkan kaum muslimin. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menuturkan :

Islam yang sahih pada masa sekarang ini adalah terasing. Adapun islam yang hanya sekedar pengakuan, maka lihatlah jumlah umat Islam sekarang ini. Jumlah mereka lebih dari 1 milyar. Meskipun demikian Islam yang sahih itu telah mengalami keterasingan.

Karena seandainya jumlah 1 milyar umat ini mereka berada di atas Islam yang sahih/jernih niscaya tidak ada seorang pun [umat manapun] di dunia ini yang berani menghadapi mereka!! Lihatlah, orang-orang Yahudi -yang mereka itu adalah saudara dari kera-kera dan babi-babi- suatu kaum yang telah ditimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan [oleh Allah]. Bukankah saat ini mereka ‘menguasai’ berbagai negeri kaum muslimin.

Bandingkanlah dengan kaum muslimin yang bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat perang Badar. Ketika itu jumlah mereka hanya sekitar tiga ratus belasan orang. Saksikanlah apa yang berhasil mereka lakukan?

Para sahabat dibandingkan dengan seluruh penduduk bumi; berapa jumlah mereka? Meskipun demikian [yaitu mereka sedikit, pent], mereka berhasil menaklukkan berbagai kota dan negeri. Mereka pun berhasil menundukkan Kisra dan Kaisar. Mereka sanggup untuk memimpin seluruh dunia. Hal itu dikarenakan mereka berada di atas Islam yang sahih/jernih dan lurus, bukan Islam yang berhenti pada pengakuan belaka.

[lihat Syarh Tafsir Kalimah at-Tauhid, hal. 32]

Sebagian ulama salaf berkata, “Hendaklah kamu mengikuti jalan kebenaran, dan janganlah merasa sedih karena sedikitnya orang yang berjalan di atasnya. Jauhilah jalan kebatilan, dan janganlah kamu merasa gentar karena banyaknya orang yang binasa.” [lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 21]

Imam Abu ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Seorang yang setia mengikuti Sunnah laksana orang yang menggenggam bara api. Dan pada masa ini, aku memandang bahwa hal itu jauh lebih utama daripada menyabetkan pedang dalam jihad fi sabilillah.” [lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 79]

Kisah di atas juga menunjukkan kepada kita tentang bahaya mengedepankan ra’yu/pendapat akal di atas dalil al-Kitab atau as-Sunnah. Karena hal itu akan menyeret kepada kekafiran dan kerugian. Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata, “Tiga hal yang menyebabkan amalan tidak akan diterima apabila disertai olehnya, yaitu; syirik, kekafiran, dan ra’yu.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud ra’yu.” Beliau menjawab, “Yaitu apabila dia meninggalkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya dan beramal dengan ra’yu/pendapatnya sendiri.” [lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 359]

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: