//
you're reading...
Tanya Jawab

Tanya Jawab Seputar Tauhid

safe_image

Bismillah.

Berikut ini kami sajikan beberapa seri tanya jawab seputar masalah tauhid dan akidah, mudah-mudahan bisa memberikan pencerahan dan kepahaman bagi kita.

Pertanyaan 1 :

Apakah tauhid itu cukup dengan meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta alam semesta, sang penguasa, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan?

Jawab :

Keyakinan semacam itu belumlah menjadikan orang yang meyakininya sebagai ahli tauhid yang sebenarnya. Karena tauhid yang sejati adalah menggabungkan antara ibadah kepada Allah dan pengingkaran kepada segala sesembahan selain-Nya.

Pertanyaan 2 :

Apa yang dimaksud dengan ibadah? Dan apa kaitan antara tauhid dengan ibadah?

Jawab :

Ibadah adalah tujuan penciptaan jin dan manusia. Hakikat ibadah adalah melakukan segala hal yang dicintai dan diridhai Allah dengan dilandasi kecintaan dan pengagungan kepada-Nya. Ibadah dan tauhid adalah dua perkara yang tidak bisa dipisahkan. Sebab ibadah tanpa tauhid tidak akan diterima.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat : 56)

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. an-Nisaa’: 36)

Pertanyaan 3 :

Apabila ibadah tidak diterima tanpa tauhid, lantas apa sebenarnya hakikat dan cakupan dari tauhid?

Jawab :

Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya. Kekhususan Allah itu mencakup tiga bagian pokok; uluhiyah, rububiyah, dan asma’ wa shifat. Oleh sebab itu para ulama membagi tauhid menjadi tiga; tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, dan tauhid asma’ wa shifat.

Pertanyaan 4 :

Apa yang dimaksud dengan tauhid uluhiyah, dan apa kaitannya dengan agama Islam?

Jawab :

Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah. Artinya segala bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Inilah yang menjadi kandungan dari kalimat syahadat laa ilaha illallah. Dengan demikian, tauhid uluhiyah merupakan kunci agama Islam, pondasi syari’at Islam, dan sebab seorang hamba bisa masuk ke dalam surga dan selamat dari kekal di neraka.

Pertanyaan 5 :

Apa makna dari kalimat laa ilaha illallah?

Jawab :

Kalimat laa ilaha illallah dalam bahasa arab dan keterangan para ulama ditafsirkan dengan istilah/ungkapan ‘laa ma’buuda bihaqqin illallah’ artinya : Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Ini menunjukkan bahwa semua sesembahan selain Allah adalah batil/keliru.

Sehingga kalimat ini memiliki konsekuensi untuk meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya. Ini pula kandungan dari ayat yang selalu kita baca ‘Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in’ artinya : Hanya kepada-Mu [Ya Allah] Kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.

Pertanyaan 6 :

Apakah salah jika ditafsirkan bahwa laa ilaha illallah dengan makna ‘tidak ada pencipta selain Allah’?

Jawab :

Penafsiran laa ilaha illallah dengan ‘tidak ada pencipta selain Allah’ ini merupakan penafsiran yang menyimpang. Sebab dalam bahasa arab kata ‘ilah’ bermakna sesembahan, bukan bermakna pencipta. Selain itu, keyakinan bahwa tidak ada pencipta selain Allah belum bisa memasukkan orang ke dalam Islam; sebagaimana keadaan kaum musyrikin jaman dahulu.

Pertanyaan 7 :

Apa yang dimaksud dengan tauhid rububiyah dan asma’ wa shifat?

Jawab :

Tauhid rububiyah adalah keyakinan bahwa Allah satu-satunya pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta. Dengan ungkapan lain, tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya. Tauhid rububiyah ini telah diakui oleh kaum musyrikin Quraisy, bahkan hampir tidak didapati manusia -yang masih lurus fitrahnya- mengingkari tauhid rububiyah ini.

Adapun tauhid asma’ wa shifat adalah mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Kita wajib mengimani bahwa Allah memiliki nama dan sifat sebagaimana yang diberitakan di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah, dan kita tidak boleh menyimpangkan makna dari nama atau sifat-sifat tersebut apalagi menolaknya.

Pertanyaan 8 :

Kalau demikian, bisakah kita simpulkan bahwa tauhid uluhiyah -bukan sekedar tauhid rububiyah atau asma’ wa shifat- adalah tujuan pokok dakwah para rasul dan kandungan utama kitab-kitab suci?

Jawab :

Benar. Allah ta’ala telah menegaskan (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul [yang mengajak]; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36)

Pertanyaan 9 :

Sebagai pertanyaan terakhir untuk pertemuan ini, bolehkah disebutkan buku apa yang bermanfaat untuk kami pelajari agar bisa memahami tauhid lebih dalam dan mantap?

Jawab :

Pertanyaan bagus. Banyak kitab akidah dan tauhid yang disusun para ulama. Diantara kitab yang paling mudah dan paling bagus untuk dibaca adalah karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, yaitu : al-Qawa’id al-Arba’ [Eempat Kaidah Utama], Tsalatsah al-Ushul [Tiga Landasan Utama] dan Kitab at-Tauhid. Tiga kitab ini insya Allah sangat bermanfaat bagi anda.

Demikian seri tanya jawab seputar tauhid yang bisa kami hadirkan dalam kesempatan ini. Semoga Allah berikan kepada kita taufik kepada ilmu yang bermanfaat dan amal salih.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

www.terjemahkitabsalaf.wordpress.com

Fanpage : https://www.facebook.com/terjemah.kitabsalaf

Twitter : https://twitter.com/santritauhid

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: