//
you're reading...
Kultum Ramadhan

Seri Kultum Ramadhan, Bagian 2

hqdefault

Alhamdulillah. Ash-sholatu was salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, adalah kebahagiaan yang teramat besar tatkala Allah memberikan kepada kita kesempatan dan kemudahan dalam menjalankan ibadah kepada-Nya. Sungguh, kenikmatan beribadah dan kelezatan ketaatan adalah penghibur hati dan penyejuk qolbu insan-insan beriman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan bisa merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim)

Kelezatan dan kenikmatan ibadah inilah yang telah dirasakan oleh generasi pertama umat ini, yaitu para sahabat radhiyallahu’anhum ajma’in. Orang-orang yang telah tertempa dan teruji dengan berbagai medan pertempuran dan pengorbanan di jalan Allah. Mereka yang rela mempertaruhkan nyawa, harta, dan kedudukannya demi mempertahankan dakwah tauhid bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah memberikan kepada orang-orang beriman kenikmatan yang sangat besar, ketika Allah mengutus diantara mereka rasul dari kalangan mereka sendiri; yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, sementara mereka dahulu berada di dalam kesesatan yang amat nyata.” (QS. Ali ‘Imran : 164)

Ibadah puasa Ramadhan yang Allah wajibkan kepada kita setahun sekali adalah salah satu bukti kesempurnaan rahmat dan bimbingan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dengan ibadah puasa inilah, jiwa mereka akan tersucikan dari berbagai kotoran dan noda penyimpangan. Baik penyimpangan pemahaman atau syubhat, maupun penyimpangan kehendak nafsu atau syahwat.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, sesungguhnya puasa Ramadhan adalah ibadah yang sangat agung dan mulia. Karena puasa Ramadhan memupuk dan menumbuhsuburkan ketaatan kepada-Nya serta mengendalikan hawa nafsu yang kerapkali menggelincirkan manusia dari jalan-Nya. Padahal, setiap hari di dalam sholat kita, kita selalu berdoa kepada Allah, ‘Ihdinash shirathal mustaqim’; “Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.” Yaitu jalan orang-orang beriman, jalan ahli tauhid dan jalan pengikut setia baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita sering menganggap bahwa kebutuhan kita terhadap makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan berbagai fasilitas hidup keduniaan lainnya sebagai kebutuhan primer yang tak boleh lepas dan luput dari desah nafas dan detak jantung kita. Padahal, di sana kebutuhan-kebutuhan yang lebih besar dan lebih mendesak untuk kita penuhi; yaitu hidayah dari Allah dan ibadah kepada-Nya, sebagaimana doa yang kita ucapkan setiap harinya; Ihdinash shirathal mustaqim. Bukankah kita membaca doa ini minimal 17 kali sehari? Sementara makan dalam sehari mungkin cukup dua atau tiga kali! Dengan demikian semestinya kita semakin menyadari, bahwa kebutuhan kita kepada hidayah dan ketaatan jauh berada di atas itu semua.

Oleh sebab itu, marilah kita tunaikan ibadah puasa ini dengan penuh kelapangan jiwa, ketundukan hati, dan kekhusyu’an kepada Allah ‘azza wa jalla. Semoga dengan ibadah-ibadah yang kita lakukan membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin dicintai-Nya. Wallahu a’lam bish shawaab.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: