//
you're reading...
Kultum Ramadhan

Seri Kultum Ramadhan, Bagian 6

ramadanyat0146

Alhamdulillah. Ash-sholatu was salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan tentunya membutuhkan kesabaran. Sabar menahan lapar, sabar menahan dahaga, dan sabar dalam mengendalikan nafsu dan angkara murka.

Diriwayatkan, bahwa ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu mengatakan, “Sabar di dalam keimanan laksana kepala bagi anggota badan.”

Sabar menduduki tempat yang sangat agung di dalam Islam. Karena sabar itu meliputi kesabaran dalam menjalani ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi musibah dan bencana yang menimpa. Inilah tiga macam sabar yang harus ada dalam diri seorang muslim.

Diantara potret kesabaran yang hendaknya kita jadikan teladan adalah apa yang dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Seorang pemuda yang mendapatkan bujukan dan rayuan untuk berbuat nista, namun ia menolaknya karena takut kepada Rabbnya. Bagaimana beliau bersabar dalam mengekang hawa nafsunya dan lebih mendahulukan ketaatan kepada Allah daripada keinginan nafsu kelelakiannya.

Allah ta’ala berfirman tentang beliau (yang artinya), “Dan demikianlah, Kami palingkan darinya -nabi Yusuf- keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia adalah termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih/ikhlas.” (QS. Yusuf)

Lihatlah, bagaimana keikhlasan Nabi Yusuf ‘alaihis salam membuahkan kesabaran dan penjagaan dari Allah. Sungguh profil pemuda yang sulit dicari tandingannya, apalagi di zaman seperti sekarang ini; zaman di mana kaum muda-mudi seolah tak mengenal lagi batas-batas pergaulan menurut syar’i.

Padahal, pada hari kiamat nanti, salah satu golongan manusia yang diberikan naungan oleh Allah -pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya- adalah ‘seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Rabbnya’, bukan pemuda atau pemudi yang ber-valentine ria, berpacaran, atau larut dalam pergaulan bebas tanpa batas!

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kesabaran di masa-masa seperti sekarang ini sangatlah dibutuhkan. Masa dimana godaan hawa nafsu dan penyimpangan pemikiran serta gaya hidup telah menjajah hati anak-anak negeri dan putra-putri bangsa ini. Dimanakah letak kemuliaan kita, jika musik, sinetron, sepakbola, dan komedi telah mengalahkan dzikir, sholat berjama’ah, dan pengajian penyejuk hati?!

Oleh sebab itu, pada bulan Ramadhan ini, saatnya bagi kita untuk kembali memperbaiki diri dan menata hati. Menyalakan semangat baru untuk hidup di atas hidayah Allah, hidup di atas Sunnah, dan hidup di atas tauhid yang murni. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mau mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Semoga Allah ta’ala tambahkan kepada kita hidayah dan ketakwaan. Dan semoga Allah mematikan kita di atas Islam dan Sunnah nabi akhir zaman. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: